Berita Details
- Home
- Berita Details
- ulfa hasanah: melangkah di jalur sendiri, membuktikan bahwa tidak ada kata terlambat untuk bermimpi
ulfa hasanah: melangkah di jalur sendiri, membuktikan bahwa tidak ada kata terlambat untuk bermimpi
Universitas STEKOM kembali menegaskan komitmennya dalam mengapresiasi perjuangan dan perjalanan inspiratif mahasiswa melalui ajang Inspiring Student Series 14. Pada seri ini, kami mengangkat kisah Ulfa Hasanah, mahasiswi S1 Hukum Universitas STEKOM, melalui tulisannya yang berjudul Melangkah di Jalur Mahasiswa.
Kisah Ulfa menghadirkan refleksi yang sangat relevan bagi generasi muda masa kini: tentang keberanian memilih ritme hidup sendiri di tengah standar sosial yang kerap membandingkan. Nilai yang paling menonjol adalah kemandirian, keteguhan hati, serta keberanian untuk tetap melangkah meski merasa “tertinggalâ€. Ia menunjukkan bahwa pendidikan bukan sekadar tentang waktu yang tepat menurut orang lain, tetapi tentang kesiapan dan tekad dari dalam diri.
Untuk menjaga keaslian pesan dan emosi yang disampaikan, berikut kami hadirkan naskah asli dari Ulfa Hasanah tanpa penyuntingan (apa adanya).
Ulfa Hasanah (S1 Hukum Universitas STEKOM)
Halo, perkenalkan saya Ulfah Hasanah. Teman-teman bisa memanggil saya Ulfa. Saya mahasiswa semester 3 Program Studi Hukum di Universitas STEKOM cabang Ungaran, dengan sistem kuliah full online. Saya lahir pada 24 September 2001, dan di usia yang sekarang menginjak 24 tahun, ada sebuah nama belakang (gelar sarjana ) yang sedang saya perjuangkan.
Mungkin bagi kebanyakan anak muda di awal usia 20-an, pertanyaan Kapan lulus? atau Kapan nikah? terdengar klise namun kerap menghantui. Saya berada di titik yang sedikit berbeda. Saat feed media sosial dipenuhi foto wisuda dan pernikahan teman-teman sebaya, saya justru baru memulai langkah sebagai mahasiswi. Awalnya, keraguan sempat muncul. Namun, saya percaya bahwa hidup bukanlah balapan, melainkan perjalanan panjang. Tidak ada kata terlambat untuk niat baik dan belajar.

Memilih jalur kuliah full online bukan sekadar ikut tren, melainkan keputusan sadar untuk menjadi diri sendiri - seorang pekerja yang juga berkomitmen menuntut ilmu. Jika ditanya apakah lelah menjalani keduanya? Jawabannya pasti iya. Harus membagi waktu, tenaga, keuangan, dan pikiran bukan hal mudah. Tapi justru di situlah letak perjuangannya.
Menjadi mahasiswa sekaligus pekerja sering membuat kita dijuluki -manusia ambis-. Julukan itu saya terima dengan bangga, karena memang harus terus bergulat dengan waktu. Di satu sisi ada tanggung jawab di tempat kerja, di sisi lain ada modul dan tugas kuliah yang menanti. Belum lagi mengatur keuangan, di mana setiap rupiah harus dibagi antara kebutuhan hidup dan biaya pendidikan.
Bagi saya, menjadi ambis adalah bentuk mencintai diri sendiri. Berusaha mewujudkan mimpi dengan keringat sendiri adalah perjuangan yang patut diapresiasi. Di saat lelah datang, saya selalu ingat: untuk apa memulai jika tidak sampai? Jika orang lain hanya melihat hasilnya nanti, biarlah hanya saya dan Tuhan yang tahu betapa berapi-apinya proses di balik layar.
Dalam perjalanan ini, tentu saja bisikan dan komentar negatif kerap menghampiri. "Sudah tua, ngapain kuliah?" atau "Capek-capek kuliah, buat apa?" Saya memilih untuk tidak memasukkan kata-kata itu ke dalam hati, justru menjadikannya bahan bakar penyemangat. Kelelahan hari ini adalah investasi untuk masa depan. Kuliah bukan hanya tentang gelar, tetapi juga tentang memperluas wawasan dan memperjuangkan bekal ilmu, terutama di bidang hukum, untuk diri sendiri dan mungkin bagi orang lain kelak.
Kuliah sambil kerja ibarat menyeduh kopi: takarannya harus kita atur sendiri. Syukurlah, Universitas STEKOM menyediakan sistem full online yang fleksibel, sehingga saya tidak harus memilih antara bekerja atau kuliah. Saya optimis — jika bisa menjalani keduanya, kenapa tidak? Jangan takut memulai hanya karena takut gagal. Lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali. Jika orang bilang lama, ya jalani saja. Siapa tahu, tanpa terasa semester pun sudah berakhir. Semangat! Ini juga saya tulis untuk menyemangati diri sendiri.
Untuk kalian yang juga baru memulai di saat orang lain sudah sampai, ingatlah: bunga tidak mekar bersamaan, tetapi masing-masing akan indah pada waktunya. Jangan biarkan standar waktu orang lain mengacaukan ritme langkah kita. Tetaplah berjalan, meski pelan. Yang terpenting bukan siapa paling cepat sampai garis awal, tetapi siapa yang bertahan hingga akhir.
Saya bermimpi, kelak ketika berhasil lulus, kisah ini bisa menginspirasi mereka yang merasa "terlambat" atau "tidak mampu" untuk tetap berani bermimpi. Saya ingin membuktikan bahwa dengan kemandirian dan kerja keras, gelar sarjana bukan hanya impian, tetapi pencapaian yang manis dan bermakna.
Mari kita buktikan bersama: mimpi yang diperjuangkan dengan mandiri dan tekad kuat akan terasa lebih bermakna saat gelar itu akhirnya menyanding nama kita. Tetap semangat, kita punya diri sendiri yang luar biasa hebat!
Kisah Ulfa Hasanah menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki garis waktunya masing-masing. Tidak ada yang benar-benar tertinggal selama masih berani melangkah. Keberanian untuk memulai, keteguhan untuk bertahan, dan kemandirian dalam memperjuangkan pendidikan adalah nilai-nilai yang patut kita apresiasi bersama.
Semoga semangat Ulfa dapat menginspirasi seluruh mahasiswa Universitas STEKOM untuk terus percaya pada prosesnya masing-masing. Karena pada akhirnya, bukan seberapa cepat kita sampai, melainkan seberapa kuat kita bertahan hingga garis akhir.
