Berita Details
- Home
- Berita Details
- nunung astriana: menegosiasikan nasib di negeri formosa, menyalakan cahaya mimpi di tengah gelap
nunung astriana: menegosiasikan nasib di negeri formosa, menyalakan cahaya mimpi di tengah gelap
Universitas STEKOM kembali menegaskan komitmennya dalam mengapresiasi perjuangan dan perjalanan inspiratif mahasiswa melalui ajang Inspiring Student Series 14. Pada seri kali ini, kami menghadirkan kisah Nunung Astriana, mahasiswi S1 Manajemen, melalui naskah berjudul Negosiasi Nasib Seorang Pejuang Devisa di Negeri Formosa.
Kisah Ana—sapaan akrabnya—bukan sekadar cerita tentang kuliah sambil bekerja di luar negeri. Ini adalah potret ketangguhan, manajemen waktu yang luar biasa, serta bakti dan tanggung jawab yang dijalani dengan kesadaran penuh. Di tengah keterbatasan ruang, waktu, dan cahaya, ia membuktikan bahwa mimpi tetap dapat tumbuh, asalkan dijaga dengan keberanian dan kesabaran.
Untuk menjaga keaslian pesan, emosi, dan kekuatan narasi yang disampaikan, berikut kami tampilkan naskah asli dari Nunung Astriana tanpa penyuntingan (apa adanya).
Nunung Astriana-S1 Manajemen

Halo, Aku Nunung Astriana, Akrab disapa Ana. Usiaku 22 Tahun, mahasiswi jurusan Manajemen semester pertama. Di Negeri Formosa, aku dikenal sebagai pejuang devisa-bukan hanya untuk keluarga ditanah air, tetapi juga untuk mimpiku sendiri: menjadi seorang sarjana.
Memasuki semester pertama adalah pertemuan awal dengan realitas yang sesungguhnya. Menyeimbangkan kuliah, kerja, dan tanggung jawab dalam satu waktu bukan hal yang mudah. Awal perkuliahan memaksaku untuk cepat beradaptasi, bahkan sebelum benar-benar aku siap.
Aku bekerja di sektor rumah tangga, merawat kakek berusia 104 tahun dan nenek 87 tahun. Merk masih sehat, aktif dan membutuhkan perhatian penuh. Setiap pagi, aku membantu aktivitas mereka: membersihkan rumah, memasak, dan memastikan semuanya berjalan baik. Karena itu, akses untuk belajar di pagi hari hampir mustahil. Malam hari seharusnya menjadi waktu istirahat. Namun kenyataan tak selalu ramah. Aku harus tetap siap siaga jika kakek dan nenek membutuhkanku. Di rumah ini, menyalakan lampu adalah larangan tertulis Cahaya kecil saja dapat membuat mereka terbangun dan dapat membuat mereka marah.
Biasanya, aku belajar setelah mereka tertidur, di balkon, ditemani Cahaya lampu jalan. Tantangan terberat bukan hanya rasa lelah, tetapi juga waktu dan kesabaran yang terus diuji tanpa batas. Ada masa dimana aku benar-benar kewalahan. Fun Fact di Semester pertama, aku belum tahu bahwa SIAKAD bisa mengalami eror ditengah malam. Ditambah selisih waktu Indonesia dan Taiwan 1 Jam, jadwal terasa semakin kacau.
Dari situ, aku mulai belajar Menyusun strategi: mengerjakan tugas lebih awal di sela waktu istirahat, dan menganggap setiap gangguan sebagai final boss yang harus ditaklukan dengan persiapan matang.

Pelan-pelan aku belajar beradaptasi. Mengatur ritme hidup, mengenali waktu terbaik untuk focus, dan berdamai dengan keterbatasan. Alhamdulilah, majikan menyediakan kuota internet gratis yang sangat membantuku mengakses materi kuliah. Lebih dari itu beliau juga memberikan dukungan penuh terhadap pendidikan ku dukungan yang menjadi penyemangat di saat lelah datang.
Di saat pekerjaan sedang Santai, aku diperbolehkan belajar. Bukan hanya belajar pinyin mandarin, tetapi juga mengakses materi kuliah di sela jam kerja. Selain merawat orang tua di Negeri orang aku juga merawat mimpiku sendiri agar kelak dapat terwujud.
Aku mulai sadar. Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti. Targetku jelas aku berangkat sebagai TKW, tetapi aku akan pulang dengan gelar sarjana. Bagiku, gelar bukan sekedar selembar kertas, melainkan bukti bahwa dalam gelap pun kita tetap bisa belajar asal berani menyalakan Cahaya dari dalam diri sendiri.
Jarak, lelah, dan gelap malam tak mampu memadamkan Cahaya mimpi. Di Negeri Formosa, aku sedang menegosiasikan Nasib dan merajut masa depan dengan sabar, dengan berani, dan penuh harapan.

Kisah Nunung Astriana mengingatkan kita bahwa perjuangan tidak selalu berlangsung di ruang kelas yang terang, tetapi terkadang di balkon sunyi dengan cahaya lampu jalan sebagai saksi. Ia menunjukkan bahwa gelar sarjana bukan hanya tentang capaian akademik, melainkan tentang ketekunan, strategi, dan keberanian untuk terus melangkah meski dalam keterbatasan.
Semoga kisah Ana menjadi inspirasi bagi seluruh mahasiswa Universitas STEKOM untuk terus menjaga cahaya mimpi masing-masing. Karena di mana pun kita berada—di kampus, di rumah, bahkan di negeri orang—masa depan tetap bisa dirajut oleh mereka yang tidak pernah berhenti berusaha.
