Berita Details
- Home
- Berita Details
- moch. dhani maulana: keteguhan mahasiswa kura-kura : menjemput mimpi di tengah ujian hidup
moch. dhani maulana: keteguhan mahasiswa kura-kura : menjemput mimpi di tengah ujian hidup
Universitas STEKOM kembali menegaskan komitmennya dalam mengapresiasi perjuangan dan perjalanan inspiratif mahasiswa melalui ajang Inspiring Student Series 14. Pada seri ini, apresiasi diberikan kepada Moch. Dhani Maulana, mahasiswa S1 Sistem Komputer, melalui kisah reflektifnya yang berjudul Dari Kursus Cicilan ke Kampus: Kisahku sebagai Mahasiswa Kura-Kura.
Cerita Dhani menghadirkan gambaran nyata tentang ketekunan seorang mahasiswa yang memilih berjalan perlahan namun pasti. Dari mengikuti kursus barbershop dengan sistem cicilan, bekerja untuk membiayai kuliah, hingga menghadapi ujian keluarga yang berat, ia membuktikan bahwa tanggung jawab dan rasa syukur mampu menjadi fondasi kekuatan. Nilai kemandirian, daya juang, dan bakti kepada orang tua menjadi pesan moral yang begitu kuat dalam kisah ini.
Untuk menjaga keaslian pesan dan emosi yang tertuang dalam setiap kalimatnya, berikut kami tampilkan naskah asli dari Moch. Dhani Maulana tanpa penyuntingan (apa adanya)
Moch. Dhani Maulana S1 Sistem Komputer (Universitas STEKOM)
Halo, teman-teman! Perkenalkan, saya Moch. Dhani Maulana, mahasiswa aktif semester 5 dari S1 Sistem Komputer di Universitas Sains dan Teknologi Komputer. Kita mungkin sudah akrab dengan dua istilah ini : Mahasiswa Kura-Kura dan Mahasiswa Kupu-Kupu. Bagi yang belum tahu, Mahasiswa Kura-Kura merujuk pada meraka yang membagi waktu antara kuliah dan bekerja, sementara Mahasiswa Kupu-Kupu adalah mereka yang beraktivitas hanya seputar kampus lalu pulang. Nah, Saya ingin berbagi cerita sebagai seorang kura-kura.

Sebagai anak pertama dari dua bersaudara, harapan orang tua besar tertumpah pada saya. Di tahun 2023, keinginan mereka agar saya melanjutkan ke perguruan tinggi begitu kuat. Namun, satu ketakutan selalu menghantui; bagaimana jika saya terpaksa berhenti ditengah jalan karena masalah ekonomi? Dari situ, tekad saya bulat; harus bisa kuliah tanpa merepotkan orang tua.
Modal hanya Tabungan sekitar satu juta rupiah. Dengan itu, saya memberanikan diri mengikuti kursus barbershop. Setelah mencari tempat kursus terdekat, saya harus bernegosiasi karena biaya mencicil sambil bekerja nantinya. Sambil menunggu dimulai, kurang lebih dua bulan saya habiskan untuk menyelesaikan kursus itu.
Begitu lulus kursus, saya langsung bekerja disebuah Barbershop di daerah Brangsong, Kendal. Kurang lebih dua bulan kemudian, Alhamdulilah, akhirnya saya bisa melunasi seluruh biaya kursus yang sempat tertunda. Setelah bebas dari cicilan, saya berpikir bisa mulai menabung untuk keperluan lain. Ternyata, ada satu hal krusial yang terlupa: saya belum punya laptop untuk menunjuk kuliah. Selama satu setengah tahun berikutnya, saya bekerja dan menabung. Akhirnya, Impian memiliki Laptop Tempur sendiri terwujud. Sebelumnya, dari semester 1 sampai 3, saya bergantung pada laptop lama yang sangat lambat bahkan membuka Microsoft Word saja butuh waktu yang lama sehingga sering kali saya mengerjakan tugas PPT dan Word hanya dengan HP.

Sayangnya, di penghujung tahun 2025, Laptop Kesayangan itu tiba-tiba mati. Setelah dibawa ke tempat service, diagnosisnya adalah kerusakan motherboard dengan biaya perbaikan sekitar tiga juta rupiah. Saat itu, rasa frustasi menyergap. Kenapa cobaan berat terus datang pikir saya. Ironisnya, laptop rusak justru saat akan saya gunakan untuk menulis cerita ini, memaksaku Kembali mengenang masa masa mengerjakan tugas dengan HP. Namun saya percaya setiap ujian pasti ada hikmahnya.
Dibalik semua tantangan saya bersyukur. Pekerjaan sebagai barber yang tak pernah terbayangkan sebelumnya telah membawa saya sangat jauh. Saya menemukan keluarga baru di tempat kerja dan berkesempatan mengikuti berbagai workshop yang memperluas jaringan dan ilmu. Pekerjaan inilah yang membiayai kuliah, uang saku, dan sesuai kebutuhan sehari-hari, sehingga saya tidak perlu lagi meminta uang kepada orang tua. Intinya, berapapun penghasilan, yang terpenting adalah bagaimana kita tetap bersyukur.

Namun, di puncak usaha mengumpulkan Tabungan, musibah datang. Pada Selasa 1 Juli 2025, Ibu Wanita terkuat saya terpaksa dirawat dirumah sakit. Dunia seakan runtuh saat dokter mendiagnosis beliau mengalami stroke akibatnya pecahnya pembuluh darah di otak kanan yang mengakibatkan kelumpuhan pada sisi kiri tubuhanya. Hidup harus berjalan. Saya berusaha tak terlihat sedih dan harus menguatkan ayah, sambil berharap ibu suatu hari pulih seperti sedia kala. Keputusan berat pun saya ambil: berhenti bekerja dibarbershop untuk merawat ibu di rumah dan membantu segala keperluan keluarga.

Setelah dua bulan berlalu, Alhamduliah, saya mulai membuka usaha potong rambut sederhana di teras rumah. Hasilnya mungkin belum seberapa, tetapi saya yakin proses tidak mengkhianati hasil. Perlahan, mulai ada pelanggan yang datang. Dengan tarif sepuluh ribu rupiah, mereka sudah mendapat potong rambut plus pomade.
Terimakasih telah meluangkan waktu membaca cerita saya. Seperti kata Stephen Hawking, Betapapun sulitnya hidup, selalu ada sesuaitu yang dapat kamu lakukan dan berhasil
Kisah Moch. Dhani Maulana menjadi bukti bahwa mahasiswa kura-kura bukanlah simbol keterlambatan, melainkan lambang ketahanan dan konsistensi. Di tengah keterbatasan dan ujian keluarga, ia tetap memilih untuk melangkah, bekerja, belajar, dan berbakti.
Semoga semangat Dhani menginspirasi seluruh mahasiswa Universitas STEKOM untuk tidak pernah menyerah pada keadaan, terus bersyukur dalam setiap proses, dan percaya bahwa perjuangan hari ini adalah fondasi kokoh bagi kesuksesan di masa depan.
