Berita Details
- Home
- Berita Details
- mika oktavianingsih: laskar perjuangan si sulung menuju mimpi sarjana
mika oktavianingsih: laskar perjuangan si sulung menuju mimpi sarjana
Universitas STEKOM kembali menegaskan komitmennya dalam mengapresiasi perjuangan dan perjalanan inspiratif mahasiswa melalui ajang Inspiring Student Series 14. Pada seri kali ini, apresiasi diberikan kepada Miko Oktavianingsih, mahasiswi S1 Hukum, melalui karya tulisnya yang berjudul Laskar Untuk Si Sulung.
Kisah Mika adalah refleksi tentang keberanian seorang anak sulung yang memikul tanggung jawab sekaligus menjaga nyala mimpinya. Di tengah keterbatasan ekonomi dan realitas dunia kerja yang tidak selalu ramah, ia memilih untuk tetap melangkah, menyeimbangkan karier dan pendidikan. Nilai ketangguhan, konsistensi, dan tekad menjadi sarjana pertama dalam keluarga menjadi pesan moral yang kuat dan penuh makna dalam tulisannya.
Untuk menjaga keaslian pesan dan emosi yang disampaikan, berikut kami hadirkan naskah asli dari Mika Oktavianingsih **tanpa penyuntingan (apa adanya)**.
Miko Oktavianingsih-S1 Hukum
Halo
Perkenalkan, aku Mika Oktavianingsih atau bisa dipanggil Mika, si gadis pemilik beribu mimpi yang saat ini menjadi mahasiswa Universitas STEKOM, prodi S1 Hukum. Aku lahir di sebuah kabupaten kecil di Jawa Tengah yang dikenal sebagai penghasil kayu jati terbaik dan terbesar di Jawa Tengah-Blora. Disanalah aku dilahirkan, tempat pertama kakiku berpijak, dan tempat yang sekali lagi menemani langkahku berjuang. Sebagai anak pertama dari dua bersaudara, aku adalah si Sulung yang kerap dianggap tangguh dan tak pernah terlihat rapuh. Usiaku kini 19 tahun, usai terakhir sebelum aku meninggalkan belasan tahun dan melangkah ke babak baru di usia 20 nanti.
Lalu mengapa disebut gadis beribu mimpi Sebutan itu tidak hadir tanpa alasan. Dibesarkan dalam keluarga sederhana dan pernah merasakan keterbatasan untuk melanjutkan Pendidikan tidak pernah menghentikanku untuk terus bermimpi. Meski dalam perjalanannya kerap muncul keinginan untuk menyerah, selalu secercah harap yang tersalip di baliknya.Seletah lulus SMK, di tahun yang sama aku memutuskan untuk mencari pekerjaan. Mudah? Tentu saja tidak. Berulang kali gagal, berulang kali di tolak, diragukan, dan dipertanyakan. Hingga akhirnya, setelah tiga bulan berlalu sejak hari kelulusan, aku mendapatkan pekerjaan pertmaku.
Aku memulai karir sebagai pramuniaga di sebuah toko buah yang dikenal dengan nama Laskar di kotaku. Saat pertama kali diberi tugas diklat untuk survei langsung, tiba-tiba datang begitu banyak keraguan dan ketakutan. Aku menjalani pekerjaan ini selama 9 jam setiap hari, pulang malam sudah menjadi hal biasa. Awalnya memang tidak mudah menerima kenyataan ini, karena pekerjaan ini jauh dari apa yang pernah ku bayangkan. Namun, harapan itu muncul lagi: Aku harus melanjutkan pendidikanku. Impian menjadi sarjana pertama dalam keluarga tak pernahs surut sedikitpun. Hingga bulan November, menjelang akhir tahun, aku memutuskan untuk mengambil kuliah online agar bisa menyeimbangkan karir dan Pendidikan. Hari demi hari terasa berat, membagi waktu dan istirahat yang seringkali berbenturan. Namun, aku bersyukur bisa bertemu dengan teman-teman baru yang sekali lagi memberiku Pelajaran berharga tentang hidup.

Yang kemudian kusadari adalah, Laskar bukan sekedar tentang bekerja. Disini aku mengalami proses tumbuh, belajar, menjadi kuat, saling mengenal, saling mendukung dan menghargai setiap pilihan masing masing individu semua dalam satu lingkup dengan visi laskar: 1000 toko di tahun 2030 mendatang.
Tak kusangka inilah secercah Cahaya Tuhan maksudkan. Laskar untuk si Sulung telah menemukan pemiliknya. Tempat di mana aku tumbuh, tempat di mana mimpi itu kumulai, dan kuharap Laskar tidak hanya menjadi tempatku berjuang, tetapi juga Cahaya yang terus menyertaiku menuju arah yang tepat.

Kisah Mika Oktavianingsih mengajarkan bahwa menjadi anak sulung bukan sekadar soal urutan kelahiran, tetapi tentang keberanian memimpin diri sendiri dan keluarga menuju masa depan yang lebih baik. Di usia yang masih sangat muda, ia telah memilih jalan tanggung jawab dan pendidikan sebagai fondasi mimpi-mimpinya.
Semoga semangat Mika menjadi inspirasi bagi seluruh mahasiswa Universitas STEKOM untuk tidak pernah menyerah pada keadaan, terus menyalakan harapan, dan menjadikan setiap tempat perjuangan sebagai laskar yang menguatkan langkah menuju cita-cita.
