Berita Details
- Home
- Berita Details
- markus setiawan tri prabowo: bangkit di usia 27, menepati janji untuk orang tua
markus setiawan tri prabowo: bangkit di usia 27, menepati janji untuk orang tua
Universitas STEKOM kembali menegaskan komitmennya dalam mengapresiasi perjuangan dan perjalanan inspiratif mahasiswa melalui ajang Inspiring Student Series 14. Pada seri ini, apresiasi diberikan kepada Markus Setiawan Tri Prabowo, mahasiswa D3 Teknologi Komputer, melalui kisah reflektifnya yang berjudul Mengapa Saya Memilih Jadi Mahasiswa di Usia 27 Tahun?
Cerita Markus adalah potret nyata tentang bakti seorang anak, keteguhan hati di tengah kehilangan, dan keberanian memulai kembali di usia yang tidak lagi belia. Di balik setiap kegagalan dan duka, tersimpan komitmen kuat untuk membanggakan orang tua serta menepati janji pada diri sendiri. Nilai ketangguhan, tanggung jawab keluarga, dan semangat belajar sepanjang hayat menjadi inti moral yang menggetarkan dari perjalanan hidupnya.
Untuk menjaga keaslian emosi dan pesan yang disampaikan, berikut kami tampilkan naskah asli dari Markus Setiawan Tri Prabowo
Markus Setiawan Tri Prabowo Mahasiswa D3 Teknologi Komputer Universitas STEKOM
Halo, perkenalkan saya Markus Setiwan Tri Prabowo dari Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Cerita saya bermula saat masuk SMA IPA, di mana saya aktif berorganisasi di OSIS dan Dewan Ambalan Pramuka Gudep SMA N 1 Sumberlawang, juga sebagai taruna desa dan dukuh. Saat kelas 12, saya bingung memilih antara lanjut kuliah atau bekerja. Cita-cita waktu itu ingin masuk sekolah kedinasan untuk membanggakan orang tua. Namun, setelah beberapa kali mencoba, saya belum juga lulus. Mungkin Tuhan punya rezeki lain untuk saya. Akhirnya, setelah beberapa kali gagal hingga usia 21 tahun, saya memutuskan merantau ke Jakarta untuk bekerja selama setahun. Di dalam hati, keinginan untuk mendaftar sekolah kedinasan masih ada, tetapi di rumah hanya tinggal Ibu yang hidup sendiri. Saya tidak ingin merepotkannya lagi, apalagi setelah Almarhum Bapak meninggalkan kami. Saya pun serius mendaftar lagi, tetapi masih belum berhasil.
Seiring waktu, usia Ibu semakin senja. Keadaan semakin berat ketika beliau jatuh dan mengalami patah pangkal paha, sehingga keterbatasan geraknya bertambah. Saya memutuskan untuk bekerja di sekitar rumah saja, sebagai satpam pabrik, agar bisa merawat Ibu yang sudah lansia. Di hati seorang anak laki-laki, selalu ada keinginan untuk membanggakan ibunya, tapi jalan itu seolah belum terbuka. Ditambah lagi, ada tanggungan keluarga yang harus saya selesaikan sambil bekerja dan merawat orang tua. Tahun 2022, badai hidup mulai datang. Ibu yang sudah sepuh terserang penyakit gula. Biaya rawat jalan dan pengobatan memaksa saya bekerja keras—tak hanya sebagai satpam, tetapi juga sebagai Mitra Badan Pusat Statistik Kabupaten Sragen.
Singkat cerita, di tahun 2023, keinginan untuk mendaftar CPNS muncul lagi. Namun, kali ini saya benar-benar dilema. Jika gagal lagi, mungkin setelah usia habis saya akan kuliah saja-itu pun jika ada rezeki dan tabungan cukup. Selama merawat Ibu dan bekerja, saya sering lupa pada diri sendiri sampai berat badan turun drastis. Puncaknya Desember 2023, penyakit gula Ibu semakin parah. Beliau harus dioperasi dan dirawat jalan. Saya bolak-balik Sragen, tempat kerja, dan rumah sakit selama dua minggu. Karena jaringan sudah mati dan usianya yang lanjut, kaki kirinya terpaksa diamputasi. Setelah operasi dan perawatan ICU di RSUD Moewardi Surakarta, Ibu akhirnya diperbolehkan pulang. Saat itu, dalam hati saya berbisik, Maafkan anakmu, Bu, belum bisa membahagiakan dan membanggakanmu.
Tahun 2024, saya masih bekerja sebagai satpam sambil menjadi petugas Panitia Pemutakhiran Data Pemilih (Pantarlih) KPU untuk menambah biaya pengobatan Ibu. Setelah tugas itu, saya ditugaskan sebagai KPPS pada 14 Februari 2024. Di saat yang sama, kondisi Ibu memburuk. Kadar gulanya meningkat, dan di usia senja, beliau tak mungkin bertahan lama dengan ketergantungan obat dan insulin.
Akhirnya, pada 16 Februari 2024 pagi, setelah hampir 24 jam menjalankan tugas sebagai KPPS, Ibu menghembuskan napas terakhir dengan tenang. Sedih dan kecewa, karena saya belum sempat menjadi kebanggaannya. Syukurlah, proses pemakaman berjalan lancar. Beberapa bulan berikutnya, saya memutuskan berhenti dari pekerjaan satpam. Masih bingung dan labil, ingin mengejar cita-cita sekaligus menepati janji: jika gagal di sekolah kedinasan, saya harus kuliah. Melihat teman-teman seangkatan yang sudah sukses, sementara kondisi saya belum memadai, membuat semangat sempat patah. Kehilangan Ibu benar-benar menguji.

Akhirnya, di Agustus, saya mencoba mengalihkan perasaan dengan menjadi ketua panitia 17-an di dukuh, mengadakan acara semeriah mungkin untuk warga. Di bulan yang sama, dapat kabar dari teman bahwa RSUD Ibu Fatmawati Soekarno Surakarta membuka lowongan NON-ASN untuk lulusan SLTA hingga dokter. Semangat itu muncul kembali. Saya mengikuti tahap seleksi dari administrasi hingga wawancara dan kesehatan. Alhamdulillah, saya diterima sebagai petugas binatu di RSUD IFS. Tidak puas sampai di situ, setelah kinerja dianggap baik, saya meminta izin atasan untuk kuliah di tahun 2026. Setelah diizinkan, saya mencari universitas yang cocok untuk karyawan: murah, fleksibel, mudah, dan terakreditasi baik. Akhirnya, saya menemukan Universitas STEKOM yang sesuai. Sistemnya full online, bisa diakses kapan saja dan di mana saja. Inilah awal kebangkitan saya di tahun 2026, setelah melewati tahun-tahun berat sebelumnya.
Menjadi mahasiswa baru di usia 27 tahun, tidak apa-apa. Saya ingin membuktikan kepada kedua orang tua yang telah almarhum, bahwa anak mereka bisa mengenakan almamater, menjadi mahasiswa sambil bekerja di RSUD, dan tetap aktif sebagai Mitra BPS Sragen. Saya harap bisa menjalani hidup dengan semangat dan keberuntungan. Pasti dari surga, mereka bangga melihat anaknya masih berjuang.
.jpeg)
Kisah Markus Setiawan Tri Prabowo mengajarkan bahwa tidak ada kata terlambat untuk memulai, dan tidak ada perjuangan yang sia-sia ketika dilandasi niat tulus untuk membahagiakan orang tua. Di usia 27 tahun, ia membuktikan bahwa pendidikan adalah pilihan sadar, bukan sekadar tuntutan usia.
Semoga semangat Markus menjadi inspirasi bagi seluruh mahasiswa Universitas STEKOM untuk terus bangkit, menepati janji pada diri sendiri, dan percaya bahwa setiap langkah perjuangan hari ini adalah jalan menuju masa depan yang lebih bermakna.
