Berita Details
- Home
- Berita Details
- lisya muttadiin: meniti jalan panjang di tanah perantauan
lisya muttadiin: meniti jalan panjang di tanah perantauan
Universitas STEKOM kembali menegaskan komitmennya dalam mengapresiasi perjuangan dan perjalanan inspiratif mahasiswa melalui ajang Inspiring Student Series 14. Pada seri ini, apresiasi diberikan kepada Lisya Muttadiin, mahasiswa Program Studi S1 Hukum, melalui karya reflektifnya yang berjudul Meniti Jalan Panjang di Tanah Perantauan.
Kisah Lisya menghadirkan potret ketangguhan seorang anak muda yang berani keluar dari zona nyaman demi pendidikan dan masa depan yang lebih baik. Perjalanannya menyeberangi pulau, bekerja di pabrik sambil kuliah, hingga menguatkan diri dengan rasa syukur, menunjukkan nilai ketekunan, kemandirian, dan keyakinan spiritual yang begitu mendalam. Cerita ini bukan sekadar tentang merantau, melainkan tentang keberanian mengambil risiko demi mimpi yang diyakini.
Untuk menjaga keaslian pesan dan emosi yang tertuang dalam setiap kalimatnya, berikut kami tampilkan naskah asli dari Lisya Muttadiin
Lisya Muttadiin Mahasiswi Program Studi S1 HUKUM Universitas STEKOM
Halo, Semua!
Perkenalkan, nama saya Lisya Muttadiin. Saya mahasiswa semester 4 Program Studi Hukum di Universitas STEKOM Ungaran. Saya berasal dari keluarga sederhana. Saya tidak kaya, tidak terlalu pandai, dan juga belum bisa disebut sebagai muslimah sejati. Saya hanya seorang gadis yang terus belajar-baik ilmu dunia maupun agama-dengan segala keterbatasan dan keinginan untuk tumbuh. Izinkan saya berbagi cerita yang tidak hanya sekadar kisah virtual, tetapi pengalaman nyata yang membentuk saya hari ini.
Semua bermula pada tahun 2023 silam. Setelah lulus SMA, saya berada di fase penuh tanda tanya: melanjutkan kuliah, langsung bekerja, atau mengambil jeda? Dalam hati, keinginan untuk kuliah begitu kuat. Namun, ketika saya menyampaikannya kepada orang tua, jawaban yang datang adalah keheningan, lalu suara lirih: Mana mungkin kamu bisa kuliah? Biaya kuliah tidak sedikit.

Kata-kata itu menusuk, tetapi justru membakar tekad saya. Saya yakin, ilmu adalah bekal abadi yang tak tergantikan. Sebagai perempuan, saya sadar bahwa kecantikan fisik bisa menipu, gaya bisa dibuat-buat, tetapi pola pikir dan wawasan hanya bisa dibentuk melalui perjalanan, luka yang mendewasakan, dan belajar tanpa henti.
Maka, dengan tekad bulat dan sedikit uang saku dari ayah, saya memutuskan merantau. Menyeberangi Selat Sunda, menuju Pulau Jawa-tanah yang belum pernah saya jamah. Perjalanan tiga hari dua malam dari Musi Rawas ke Semarang saya lalui dengan rasa lelah, bingung, namun hati dipenuhi keyakinan: saya harus berjuang.

Sampai di Semarang, saya mencari jalan. Impian saya sederhana: kuliah sambil bekerja. Setelah mencari informasi, akhirnya saya menemukan Universitas STEKOM yang menyediakan kelas karyawan. Tak lama kemudian, saya melamar kerja di sebuah pabrik garment, PT Ungaran Sari Garment Unit 3, dan Alhamdulillah diterima. Di sanalah perjalanan panjang ini benar-benar dimulai.
Menjadi dewasa tidak semudah yang dibayangkan. Namun, saya bersyukur bertemu dengan orang-orang baik yang merangkul saya seperti saudara, memberi motivasi, dan mengingatkan untuk tidak menyerah. Saya pun belajar bahwa satu-satunya cara bertahan adalah dengan menikmati proses. Berjuang di tanah orang bukan perkara mudah. Saya harus pintar mengatur waktu antara kerja dan kuliah. Badan sering lelah usai seharian di pabrik, sementara tugas kuliah menunggu untuk diselesaikan. Melelahkan? Pasti. Tapi saya memilih untuk bersyukur.
Saya tidak berkata, Ya Allah, capek sekali kuliah sambil kerja, saya ingin istirahat. Sebaliknya, saya ucapkan, Terima kasih, Ya Allah, untuk kesibukan yang berarti, rezeki yang Engkau lancarkan, dan segala kecukupan dalam hidupku. Saya sadar, jalan tol yang mulus pun memiliki rest area. Jadi, tidak apa merasa lelah, asal jangan berhenti selamanya.

Kini, saya belajar menikmati setiap langkah. Saya terus berusaha meningkatkan diri, menjadi wanita mandiri dan berkarir, mengupayakan menjadi high value woman - bukan untuk pamer, tapi untuk membuktikan bahwa hidup adalah ruang belajar yang tak berakhir. Jika tak bisa menjadi sempurna, setidaknya saya bisa bertahan dan menerima setiap proses dengan ikhlas.
Saya percaya, pendidikan tinggi dan karakter yang baik adalah investasi jangka panjang - bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk generasi berikutnya, untuk anak-anak yang kelak lahir dari rahim seorang ibu yang terdidik.
Saya akan terus berjalan, karena saya penasaran dengan rencana Allah-selalu indah, penuh kejutan, dan pasti terbaik untuk hamba-Nya yang tak pernah berhenti berusaha.
Sampai bertemu di garis finish!
Kisah Lisya Muttadiin adalah refleksi nyata bahwa mimpi tidak mengenal batas geografis maupun keterbatasan ekonomi. Dengan tekad, doa, dan kerja keras, setiap langkah kecil dapat membawa perubahan besar dalam hidup.
Semoga semangat Lisya menjadi inspirasi bagi seluruh mahasiswa Universitas STEKOM untuk terus berani melangkah, bersyukur dalam proses, dan yakin bahwa setiap perjuangan hari ini adalah investasi berharga untuk masa depan yang gemilang.
