Berita Details
- Home
- Berita Details
- "ipk 3,9 & omzet jutaan: seni bisnis sambil kuliahâ€
"ipk 3,9 & omzet jutaan: seni bisnis sambil kuliahâ€
Halo, teman-teman! Perkenalkan, saya Septiyana Tri Handayani, biasa dipanggil Tiya, dari Program Studi Manajemen. Saya merupakan mahasiswi semester 7 di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Studi Ekonomi Modern (STIE STEKOM) Kartasura. Saya adalah anak sulung dari tiga bersaudara, di mana kedua adik saya sudah berumah tangga. Saat ini, saya masih duduk di bangku perkuliahan sambil menjalankan bisnis kecil saya.
Teman-teman tahu tidak? Menjadi mahasiswi sekaligus bekerja adalah perjuangan yang membutuhkan semangat, waktu, dan pengorbanan besar. Saya adalah salah satu mahasiswa yang mampu kuliah sambil bekerja, tetapi lebih tepatnya, saya menjalankan bisnis sendiri. Awalnya, saya mencoba berjualan buah dengan sistem COD melalui marketplace Facebook.
Mengapa saya memilih berjualan? Karena bisnis ini bisa saya jalankan sembari kuliah dengan waktu yang dapat saya atur sendiri. Saya berpikir bahwa bisnis ini tidak akan mengganggu perkuliahan saya. Di Facebook, saya hanya memposting foto buah, lalu memberikan deskripsi mengenai harga, lokasi, dan informasi lainnya. Pada awalnya, saya hanya menjual beberapa kilogram buah saja. Namun, saya sudah sangat bersyukur karena dari hasil yang mungkin tidak seberapa itu, saya bisa mengumpulkan uang untuk membayar biaya administrasi kuliah saya.

Hari demi hari, saya terus konsisten memposting buah di Facebook. Hingga suatu hari, ada seorang pelanggan yang mengirim pesan menanyakan harga buah yang saya posting. "Kak, misalkan mangga harum manis harganya Rp4.000/kg, boleh tidak? Saya beli satu krat atau peti (setara dengan 40–50 kg)," tulis pelanggan tersebut. Di satu sisi, saya senang ada yang mau membeli dalam jumlah hampir setengah kuintal, padahal sebelumnya pelanggan hanya membeli sekitar 2–5 kg per orang. Namun, di sisi lain, saya juga berpikir bahwa jika dijual dengan harga Rp4.000/kg, maka laba saya hanya Rp1.000/kg. Setelah mempertimbangkannya, saya pun setuju karena laba Rp1.000/kg dengan satu kali COD tetap menghasilkan keuntungan kotor Rp40.000–50.000.
Keesokan harinya, saya mulai berpikir untuk memposting buah dengan harga lebih rendah dan laba yang lebih kecil, tetapi dengan metode pembelian dalam jumlah minimal tertentu. Dari situ, mulai banyak penjual jus dan pemilik kios buah yang menghubungi saya. Saya menerima setiap pesanan, meskipun saat itu saya masih mengambil buah di grosiran. Karena semakin banyak peminat, saya akhirnya mencari pengepul buah lokal yang menawarkan harga lebih murah. Awalnya, saya hanya mendapatkan satu macam buah, yaitu mangga, tetapi seiring waktu, saya berhasil mendapatkan berbagai jenis buah lokal dari beberapa pengepul.
Setiap hari, hampir selalu ada pelanggan yang membeli sekitar 40–50 kg buah. Karena saya hanya memiliki sepeda motor, saya mengangkut buah menggunakan bronjong. Dalam perjalanan bisnis ini, saya sering mendapatkan hinaan, cacian, dan bahkan diremehkan. Salah satu kalimat yang paling menyakitkan dan masih saya ingat hingga sekarang adalah, "Cah kuliahan kok usung-usung bronjong." Kalimat itu membuat saya sedih dan menangis. Namun, dukungan penuh dari orang tua dan kakak-kakak saya membuat saya tetap semangat

Setelah mendapatkan hinaan tersebut, saya justru semakin termotivasi dan lebih sering memposting buah di Facebook dan WhatsApp. Yang awalnya hanya COD dan mengantarkan pesanan ke kios-kios terdekat, kini saya mulai menerima pesanan dari pengepul di Kebakkramat, Tanah Abang, bahkan dari luar Jawa, seperti Sumatra. Saya sangat bersyukur, tetapi di sisi lain saya juga harus mempertimbangkan waktu agar bisnis ini tidak mengganggu perkuliahan saya. Untungnya, di kampus saya ada kelas penuh online (eksekutif), di mana saya bisa mengakses materi kapan saja dan di mana saja selama 24 jam. Karena fleksibilitas ini, saya semakin giat dalam menjalankan bisnis tanpa khawatir mengganggu kuliah.
Dengan banyaknya pelanggan dari luar kota, bahkan luar pulau, tentu ada kekhawatiran soal penipuan, terutama karena transaksi melibatkan nominal uang yang tidak sedikit. Namun, untuk mengurangi risiko, saya meminta pelanggan mengirimkan identitas mereka, seperti KTP. Setelah saya menyetujui beberapa permintaan pelanggan dari luar kota, saya mulai bingung mencari cara pengiriman buah. Setelah bertanya kepada beberapa senior di bisnis pengepulan, saya mendapat saran untuk menghubungi sopir bus yang memiliki rute sesuai dengan tujuan pelanggan. Bahkan, teman-teman sesama pengepul memberi saya akses kontak beberapa bus.
Namun, bisnis ini tidak selalu berjalan mulus. Suatu hari, saya tertipu oleh seorang pelanggan dari Jakarta. Awalnya, dia memesan tiga jenis buah, yaitu alpukat, semangka, dan melon. Ia berjanji akan datang langsung ke lokasi saya dengan truk untuk mengangkut pesanan. Namun, pada hari yang telah disepakati, ia menghubungi saya dan mengatakan tidak bisa datang karena hujan. Padahal, saya sudah terlanjur memesan dan membayar DP ke petani dengan jumlah yang tidak sedikit. Saat itu, saya sangat syok dan sempat terpikir untuk berhenti berbisnis. Namun, keesokan harinya, saya berbagi cerita dengan teman-teman pengepul yang lebih senior. Mereka mengatakan, "Rapopo, Dik, kui bumbune wong bisnis. Kamu sudah sampai di titik ini berarti kamu sudah benar-benar berbisnis. Misalnya modalmu habis, tak modali, bawa saja barangku dan bayarnya setelah kirim." Dukungan dari mereka kembali membangkitkan semangat saya untuk terus menjalankan bisnis ini.

Di sisi lain, saya juga tetap khawatir dengan perkuliahan saya. Ketika bisnis saya sedang ramai dengan banyak pesanan, bertepatan dengan waktu Ujian Akhir Semester (UAS). Saya harus membagi waktu dengan sangat ketat: pagi mencari buah untuk dikirim ke pelanggan, siang mengemas pesanan, sore mengirim melalui bus, menjelang malam merekap hasil penjualan dan pembelian, lalu malam harinya baru bisa belajar dengan tenang. Hanya malam hari yang saya miliki untuk fokus belajar. Namun, saya berjanji pada diri sendiri, jika nilai IPK saya masih bertahan di angka 3,9, saya akan terus melanjutkan bisnis ini.
Ketika hasil Kartu Hasil Studi (KHS) saya keluar, Alhamdulillah, IPK saya tetap stabil di angka 3,9. Saat itu, saya berpikir bahwa saya mampu memahami teori di perkuliahan sekaligus mempraktikkannya langsung melalui bisnis ini.
Jujur, perjalanan ini sangat melelahkan dan tidak mudah. Namun, mengingat sejauh apa saya telah berjuang, serta menyadari bahwa di usia 22 tahun saya telah membangun bisnis sendiri, saya merasa sangat bangga. Saya yakin, selama saya terus berusaha dan tidak menyerah, kesuksesan akan datang dengan sendirinya.Semangat untuk semua yang sedang berjuang di dunia perkuliahan dan bisnis!
